Friday, July 8, 2016

Pesta Ulang Tahun

Sejak TK, perayaan ulang tahun sudah pernah gue lewati. Gue masih ingat pertama kali gue datang ke sebuah acara ulang tahun teman gue namanya Ratna. Acara masih seperti acara anak TK baru akil balik kebanyakan. Ada begitu banyak kue dan telur warna merah, sepertinya perlu di kerok karena masuk angin.

Acara terebut juga ada pembawa acara atau MC. MC-nya adalah seorang ibu-ibu sok gaul. “Hai, guys, kita akan merayakan ulang tahun dari Rranatha..” wajah gue sempat terkena air dari mulutnya ketika dia menyebut nama Ratna yang begitu gaul.

Selain datang ke acaranya, gue juga ikut serta dalam games yang disediakan. Gamesnya seperti menghitung jumlah anggur dan lomba membuka kulit jeruk. Gue mengikuti games pertama, yaitu lomba menghitung anggur. Lomba dimulai dengan kekalahan gue dalam berhitung. Ini bisa memperlihatkan sisi bego dari seorang Hariyo Wibowo, menghitung anggur saja bayi 5 bulan juga bisa.

Lomba selanjutnya yaitu mengupas kulit jeruk dan dimenangkan oleh gue. Pertama kalinya gue menang dengan bangga dalam sebuah games bocah, yaitu mengupas kulit jeruk. Ini bisa memperlihatkan sisi cemen dari seorang Hariyo Wibowo, mengupas jeruk saja Mama Lauren juga bisa.

Hadiah yang gue dapat dari kemenangan gue adalah sebuah botol minum plastik dan bonus jeruk yang baru gue kupas. Jeruknya gue makan dan botol minumnya gue bawa pulang, botol minum yang sekarang menjadi tempat dimana peliharaan gue pipis, kreatif bukan? Bego bukan?

Acara ulang tahun kedua yang gue hadiri sekitar beberapa bulan yang lalu yang diadakan di Restoran Kalasan. Saudara gue yang sudah mempunyai anak genap berumur 5 tahun. Dia menyuruh gue untuk datang ke acara tersebut. Gue memakai kaos merah, jam tangan, dan kacamata. Dan jangan lupa celananya juga, untuk ingat pakai celana.

Gue datang ke acara ulang tahun tersebut dan diawali dengan makan-makan. Porsi yang gue ambil cukup besar. Ada ayam, kari, kerupuk, sayur, dan lain-lain. Gue membawa makanan gue ke meja yang gue duduk tadi. Pergaulan bisa dilihat dari seseorang yang duduk dengan siapa. Jadi ketika gue duduk di meja yang tadi gue duduki, ternyata isinya ibu-ibu dengan membawa anak, tragis sekali saudara-saudara.

Gue makan dengan canggung sekali. Anak-anak pada bermain balon dan berteriak berisik. Ada yang terjatuh, menangis, lari-lari, muay thai, dan lain-lain.

Setelah selesai makan gue memandangi sekitar. Entah apa yang harus gue lakukan saat ini. Gue hanya bisa berdiam diri dari posisi gue. Melihat cewek-cewek cantik yang sedang makan dan saat melihat, ada ibu-ibu membalas tatapan gue dengan mata di kedip-kedip sambil senyum-senyum. Sepertinya cewek itu mempunyai tameng untuk melindungi diri.

Tiba-tiba ada anak-anak bermain balon dan dia terjatuh. Gue membangunkannya dan memberinya balon agar dia tidak menangis. Dia tersenyum dengan gue dan akhirnya pergi.

Gue senang sih dia tersenyum dengan gue. Tapi pertanyaan adalah apa arti dari senyuman itu? Apakah ini yang dinamakan cinta? Kenapa gue terpengaruh dengan penyakit pedofil ini, sih?

Ketika gue menyelamatkan anak tersebut, tiba-tiba ada ibu-ibu di samping gue memanggil gue, “Baik banget, ya Pak.”

“Gak, kok biasa aja” kata gue, malu tak tahu malu.

“Istrinya sudah hamil berapa bulan?”

“WHAT?” kata gue, kaget.

Istri? Hamil? Gila, sejak kapan gue punya istri? Gue bingung harus menjawab gimana. Seorang ibu-ibu mengira gue telah mempunyai istri dan hamil. Tolong jangan berburuk sangka, saya tidak menghamili anak orang, anak orang yang menghamili saya (lho?).

“Saya belum punya istri, bu, saya masih sekolah” kata gue, keringatan.

“Oh, saya pikir sudah punya. Tampangnya seperti om-om sih. Kalau om-om wajahnya begini, aduh saya pengen banget tahu” kata ibu itu sambil tertawa.

Gue sempat mendengar kalimat itu, gue berpikir: Gue mirip om-om?

Beberapa pertanyaan yang gue dapatkan ketika gue berada di acara ulang tahun tersebut adalah:

1.      Kenapa saya dikira om-om?
2.      Kenapa saya disukai ibu-ibu?
3.      Kenapa saya dikira mempunyai istri yang sedang hamil
4.      Kenapa saya harus berada di acara aneh ini?

Hal ini membuat gue sedikit tidak tenang. Beberapa jam kemudian, gue bersama lainnya kembali pulang ke rumah. Sesampai di rumah, Nyokap menyapa gue dan bertanya-tanya.

“Gimana makanannya, enak?”

“Lumayan” kata gue.

“Banyak ketemu cewek-cewek cantik, ya?” tanya Nyokap, curiga.

“Iya, cantik-cantik, hahaha” kata gue, tertawa garing.

Gue kembali masuk ke kamar gue dan tidur. Seolah ingin melupakan pertanyaan tadi. Cewek-cewek cantik yang gue temui ternyata ibu-ibu. Dan kalau gue kasih tahu ke Nyokap, dia malah akan semakin berdebat dengan gue tentang hal ini. “Apa? Kamu disukai ibu-ibu? Seharusnya papa kamu disukai ibu-ibu itu. Dia ganteng dan tampan.”


Tragisnya seorang bocah SMA seperti gue dibandingkan dengan seorang om-om berkumis yang disukai ibu-ibu. Pantas aja gue jomblo. 

Monday, July 4, 2016

Pembawa Sial

Kesialan selalu datang kapanpun dan dimanapun. Kita tidak akan tahu kapan kesialan selalu datang menyerang kita. Mungkin kita akan jatuh di comberan, mungkin kita akan keinjak eek, atau mungkin kita akan bertemu bapak-bapak yang pipisnya berceceran.

Kesialan baru-baru ini membawa gue kedalam jurang penyakit. Sekitar beberapa hari yang lalu, Nyokap menyuruh gue untuk membuang sampah. Gue mengangkat tong sampahnya dan pergi membuangnya. Setelah membuang, gue pergi mencuci tong sampah tersebut. Sambil mencuci, menggunakan selang air samping rumah dan mencucinya, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh tepat di pundak gue. Gue berpikir “Apakah ini yang dinamakan cinta?”. Gak perlu mikir gitu juga, sih.

Gue tidak bisa bergerak. Sesuatu yang jatuh tepat di pundak gue rasanya hangat-hangat. Dan saat gue cek, ternyata eek burung. Di rumah gue banyak sekali burung-burung merpati yang hinggap. Entah memang dipelihara atau burungnya datang sendiri.

Ketika gue sadar bahwa benda hangat yang jatuh tepat di pundak gue adalah eek burung, gue langsung bergegas pergi. Gue meletakkan tong sampah gue dan berjalan seperti orang penyakitan. Inilah efek seseorang ketika terkena kotoran hewan.

Gue bergegas mengambil tisu dan membersihkannya. Feeling gue gak enak karena merasa belum bersih. Akhirnya gue memutuskan untuk mandi.

Gue pun pergi mandi dan membersihkan semuanya. Baju gue akhirnya gue ganti, memakai baju biru muda. Sekilas, akhirnya gue bersih. Sorenya, gue pergi menuju kamar Nyokap buat tiduran sebentar dan ternyata gue tertidur lelap. Malamnya gue terbangun dan tiba-tiba tubuh gue merasa sangat dingin dan merasa sangat berat.

Gue keluar dari kamar dan duduk di kursi. Samping gue, Nyokap, sedang sibuk main Candy Crush, gaul abis.

Karena tubuh gue merasa sakit, gue pun mengeluh dan mengeluarkan kata, “Aduh, aduh.”

“Kamu kenapa?” tanya Nyokap sambil bermain Candy Crush nya.

Gue diam dan tidak menjawab. Gue kembali ke kamar dan tiduran. Setelah tiduran beberapa menit, gue terbangun kembali dan keluar kamar. Gue pergi menuju ruang makan, terlihat Bokap dan Nyokap sedang makan. Bokap juga baru pulang dan membelikan nasi padang untuk gue. Gue duduk di kursi dengan keadaan lemas.

“Kamu kenapa? Dari tadi kamu begitu terus” tanya Nyokap sambil makan.

“Kayaknya aku demam, deh” kata gue.

Nyokap memegang dahi gue dan berteriak, “AW” ternyata Nyokap alay juga, ya.

“Kasih makan obat dulu sana” kata Bokap, memerintah.

Sebelum makan obat, gue makan nasi padang yang dibeli oleh Bokap tadi. Setelah makan selesai, gue memakan obat pereda demam. Gue kembali ke kamar dan bersandar. Tubuh gue menjadi sangat dingin dan sekujur tubuh terasa sakit. Seakan-akan seperti tertusuk jarum. Nafsu makan gue pun menurun.

Malamnya, gue terbangun karena sekujur tubuh gue terasa sangat sakit dan kepala gue sakit ampun-ampunan. Gue keluar kamar dan melihat Bokap sedang duduk sambil minum teh karena tidak bisa tidur.

“Kamu kenapa lagi?” tanya Bokap.

“Tubuhku sakit sekali” kata gue, mengeluh.

“Yaudah, Papa buatin teh manis, ya” kata Bokap, menawarkan diri.

Gue duduk bersandar sambil menutup mata dan tidak sanggup membuka mata. Sekujur tubuh gue terasa sangat berat dan sakit.

Bokap membawa segelas teh manis hangat dan menyuruh gue minum. “Nah, minum tehnya” kata Bokap.

Nyokap juga terbangun karena mengetahui kalau keadaan gue sedang tidak benar. Ia memijit pundak gue agar tubuh gue terasa lebih ringan. Nyokap membawakan obat dan menyuruh gue untuk meminumnya lagi.

“Nih, minum biar tubuhnya gak sakit” kata Nyokap, memerintah.

Sambil minum, gue akhirnya bersandar lemas. Tiba-tiba perut gue sedikit tidak.

“Kayaknya aku mau muntah?” kata gue, mengeluh.

“Muntah?” tanya Bokap.

“Iya, kayak mual gitu”

“Jangan-jangan”

“Jangan-jangan apa?”

“KAMU HAMIL?”

“Ini Hariyo Wibowo , Pa, bukan Ira Wibowo.”


Gue bergegas pergi ke kamar mandi untuk muntah. Saat di kamar mandi, gue tidak jadi muntah.

“Gak bisa muntah, Pa” kata gue, lemas.

“KAMU PURA-PURA HAMIL?”

“Jangan dibahas, Pa, tolong.”

Gue duduk kembali di kusi. Lalu tiba-tiba gue mual kembali.

“Pa, mau muntah, nih. Tolong ambilkan ember.”

Bokap bergegas mengambilkan ember untuk gue. Embernya datang dan gue pun muntah, “HOEKKK.” Saat muntah, obat dan nasi padang yang gue makan tadi ikutan keluar. Gue mengoleskan minyak angin di sekujur tubuh dan kembali ke kamar untuk tidur. Terima kasih burung yang menjatuhkan eek tepat di pundak gue ini. Anda baru saja membawakan penyakit untuk gue.


Esoknya, tubuh gue sedikit lebih ringan namun agak berat sedikit. Suhu menurun meskipun belum menurun sepenuhnya. Dari tubuh yang terasa sakit, berganti menjadi perut gue yang sakit. Kadang bisa sakit, kadang bisa gak. Jangan-jangan gue beneran hamil. 

Tuesday, June 21, 2016

Tentang Mengedit

Gue baru kelarin beberapa halaman naskah gue yang akan segera gue akhiri pada akhir Juni nanti. Semoga kelar dengan baik. Masih ada 20-an halaman lagi sebenarnya. Mumpung gue sedang mager untuk menulis, gue sekalian mau nge-share hal-hal yang biasa gue lakukan ketika lagi mengedit. Siapa tahu membantu temen-temen yang juga juga lagi nulis buku.


1. Kasih Jarak Dulu

Sebelum mengedit tulisan kamu, simpen dulu tulisan tersebut minimal satu minggu. Begitu kamu selesai menulis draft 1, jalan-jalan dulu, lupakan tentang naskah kamu. Baru, setelah seminggu, kembali ke naskah kamu. Dengan memberikan waktu/jarak seperti ini, pasti mata kamu dalam membaca naskah kamu akan lebih fresh. Mata kamu akan menjadi mata seorang pembaca yang bisa melihat kesalahan-kesalahan yang mungkin tidak terlihat sewaktu sedang menulis dulu.

2. Lebih Padat Lagi!

Bagi gue, mengedit lebih berarti memotong, atau merampingkan. Gue akan lihat kalimat-kalimat yang bisa dibuat lebih "padet". Gue akan coba menggunakan kata yang lebih sedikit untuk tujuan yang sama. Misalnya, di naskah ada tulisan: "Gue sama sekali enggak tahu apa gue harus pergi ke sana atau tidak." Kalimat ini akan gue buat lebih padet dengan menulisnya seperti ini aja: "Gue bingung ke sana apa enggak." Kalimat dengan jumlah kata yang sedikit seperti ini membuat tulisan kita tidak terasa "sesak" dan "ramai".

3. Kurangi Kalimat Pasif

Gue pasti sebisa mungkin menggunakan kalimat aktif. Setiap kali gue nemu kalimat pasif, pasti gue ubah menjadi aktif. Seperti misalnya: "Ketimun itu diambil Akbar" akan gue ganti menjadi "Akbar mengambil ketimun". Penulisan kalimat dalam bentuk aktif akan membuat pembaca bisa membayangkan kalimat tersebut dengan lebih visual. Kalimat aktif juga membuat pembaca merasa tulisannya bergerak maju, dan orang-orang ditulisan tersebut terasa melakukan kegiatan.

4. Speaker Attribution

Speakter attribution berarti frase yang menandakan siapa yang berbicara dalam kalimat langsung. Misalnya "kata Akbar", atau "kata gue", atau "kata Nyokap". Biasanya dalam mengedit gue akan membuat dialog menjadi lebih enak divisualkan dengan mengganti/mencampurkan speaker attribution dengan sebuah kegiatan.

Misalnya:
“Bar, gue mau bicara sesuatu sama kamu” kata gue.

“Bicara apa?” tanya Akbar.

“Aku suka kamu” kata gue.

“Aku juga suka kamu” kata Akbar.

Gue edit menjadi lebih visual dan tidak membosankan menjadi:

“Bar, gue mau ngomong sesuatu sama lo?” kata gue.

“Ngomong apa?” tanya Akbar sambil mengusap kacamatanya.

“Gue suka sama lo” kata gue dengan wajah memerah.

Akbar memakai kacamatanya, “Gue juga suka sama lo” kata Akbar.

Kenapa dialog ini jadi homo begini. Maaf, ini hanya contoh.

4. Cek Typo

Selalu cek dan re-check tulisan kamu sudah bebas kesalahan ketik. Tidak ada yang lebih nyebelin buat editor penerbit baca selain naskah yang banyak salah ketik.

5. KISS = Keep It Simple, Stupid!

Gue adalah tipe penulis yang selalu menghindari penggunaan kata yang terlalu berat. Kalau gue nemuin kata seperti ini dalam buku gue: "Dia harus lebih konsisten dalam mengaktualisasikan idenya." biasanya gue akan ganti menjadi "Dia harus lebih sering mewujudkan idenya." Kata-kata dalam Bahasa Inggris yang keluar pas lagi nulis draft pertama seperti "gesture" gue pasti rubah menjadi "sikap". Sebisa mungkin gue menulis dengan istilah yang lebih banyak orang tahu. Semakin simpel, semakin baik. Menulis bukan untuk memberitahu kamu pintar dan ngerti banyak kata-kata aneh, tapi untuk mengkomunikasikan cerita kamu secara efektif kepada pembaca.

6. Struktur Dulu, Baru Komedi

Karena gue adalah penulis komedi, sewaktu menulis gue berusaha untuk tertawa pada jokes gue. Kalau gue ketawa, berarti jokesnya berhasil, paling enggak buat gue. Kalau lagi editing, gue emang jarang ketawa sama jokes yang gue buat sebelumnya (karena udah tahu apa jokesnya apa). Tapi, biasanya gue akan selalu mencari celah untuk memasukkan komedi ke dalam tulisan gue sembari gue mengedit.

Buat kamu yang mau menulis komedi, jangan takut kalau dalam draft pertama tulisan kamu belum lucu. Komedi akan datang sendirinya kalau struktur tulisan kamu sudah rapih dan benar. Konsentrasi dulu dengan cerita yang mau kamu sampaikan, dan komedi bisa ditambahkan/dieksplorasi pada saat rewriting. Hindari penulisan komedi yang malas seperti memasukkan tebak-tebakan, cerita lucu, ini semua harus dihapus pas lagi ngedit tulisan kamu.

7. Hindari Hal-Hal Klise

Gak tahu dengan penulis lain, tapi gue gak terlalu suka dengan penggunaan istilah yang klise seperti "Dia seperti tong kosong nyaring bunyinya", atau "Dia cewek terindah yang pernah gue lihat", atau "Gue cinta sama dia setengah mati". Istilah klise ini selain sudah terlalu sering digunakan, juga tidak memperkaya tulisan kita sendiri. Setiap kali ngedit, gue mencari istilah-istilah klise ini, membuangnya, dan mencari metafor lain yang belum pernah dipakai sebelumnya.

8. Udah kelar? Edit lagi!

Writing is rewriting. Kalau kamu pikir editan kamu udah bagus, kasih jarak seminggu, lalu baca ulang dan edit lagi. Ulangi sampai kamu merasa tulisan kamu sudah benar-benar bagus. Kecuali kalo kamu ditungguin editor dan naskahnya sudah masuk deadline mau terbit.

Semoga membantu calon-calon penulis yang juga lagi nulis/ngedit tulisannya.



Sunday, June 12, 2016

Ingatlah Ini Sesudah Mengompol

Ngompol merupakan salah satu hal yang memalukan ketika masih kecil atau bahkan yang sudah besar masih saja bisa ngompol.

Sejak SD, gue sering mengompol dan bahkan di sekolah gue malah sering ditertawakan. Gue pernah sekali mengompol ketika kelas 2 SD dan syukurlah tidak ada yang tahu.

Namun, kejadian ngompol masih terus berlanjut saat gue sedang  pergi keluar kota, yaitu Surabaya.

Di Surabaya, gue ketemu saudara gue yang udah kerja dan jadi Bos di sebuah perusahaannya. Saat itu gue masih kelas 5 SD dan gak tau apa-apa. Kebetulan saudara gue membuka bisnis bidang mainan. Saat gue sampai di rumahnya, banyak sekali mainan-mainan yang bakal dijual dan dikirim. Bisnis saudara gue memang terkenal sukses karena pernah mengirim barang di kota-kota luar seperti, Sidoardjo, Gorontalo, Kalimantan, Bali, dsb.

Gue sering memainkan mainan tersebut hingga rusak. Gue juga sering dengan usil membuka plastik mainan tersebut hanya untuk dimainkan, bahkan pernah gue ambil diam-diam. Jangan ditiru ya, guys.

Di Surabaya, gue di ajak ke Pasar Atom, ITC Surabaya, Galaxy Plaza, Tunjungan Plaza, dan tempat lainnya. Disaat suatu peristiwa ketika gue diajak makan malam dengan saudara gue di sebuah rumah makan yang didirikan oleh orang Medan keturunan Tionghoa. Gak perlu gue kasih tahu juga, sih. 

Kebetulan waktu itu, saudara gue yang kuliah di China datang membawa pacarnya dan saudara dari paman gue yang kebetulan orang China asli dan berbahasa. Dia ngelihat gue seperti bocah ingusan kekurangan gizi, dan untuk pertama kalinya, dia berbicara sama gue dengan bahasa mandarin. Gue hanya bisa bilang, “ching chong chang.”

Momen yang paling parah dan gak ketahuan oleh saudara gue adalah di saat gue ngompol di kamarnya.

Saat itu, malamnya kami tidur dengan nyenyak dan kebetulan gue dan saudara gue satu ranjang (karena gue jomblo jadi gak ada pilihan lain). Terus gue ingat, gue sedang bermimpi lagi mandi di kamar mandi yang begitu mewah dan ada showernya. Terus gue pergi mandi disana dan gue juga buang air sekalian disana.

Realita nya, gue ngerasa aja yang mengalir begitu cepat di kaki gue dan saat gue sadar bahwa AIR TSUNAMI DARI GUE SUDAH MEMBASAHI RANJANG SAUDARA GUE. Gue terbangun dan kaget dan hampir berteriak. Waktu itu luas permukaan dari bekas ngompol gue tersebut hampir mendekati area tidur saudara gue.

Gue cepat-cepat nutupin pake spray tempat tidur saudara gue sampai-sampai gue berdoa sama Tuhan: Tuhan semoga gue gak ketahuan ngompol dan tolong segera keringkan ngompol gue tersebut. Setelah saudara gue bangun, gue pura-pura tidur lagi dan gue bangun lagi.

Abang gue lalu turun ke ranjang yang tadi gue tidur sambil merasakan aura yang tidak enak. Lalu dia bertanya dengan keras “Elu ngompol ya” gue hanya bisa pura-pura gak dengar, saudara gue juga kagak dengar dan nyuruh gue dan abang gue untuk segera mandi dan pergi ke bawah. Dan untungnya, abang gue sudah lupa akan momen itu.

Pesan Moral: Kalau kalian sudah terlanjur ngompol, berdoalah agar tidak ketahuan.


Friday, June 10, 2016

Uji Nyali



WAKTU itu, kelas 5 SD. Gue dan teman SD gue, Kelvin Thomas dan Andreas (sudah lupa siapa-siapa saja yang terlibat), kami ingin adakan uji nyali. Sekolah SD gue, memang terkenal akan angkernya. Banyak penampakan yang terjadi saat gue sekolah di sana. Waktu itu, ada sebuah bangunan yang mau di renovasi. Kebetulan sudah setengah jadi. Tepat pukul 7 sore, gue sedang les malam.

Kebetulan, gue masuk sekolah siang, otomatis lesnya juga pasti sampai malam hari. Andreas, teman SD gue,  yang sok jantan, dengan ngawurnya mengatakan kalau dia melihat pocong di bangunan itu. "Woi, gue melihat pocong di bangunan itu!" seru Andreas, sampai teriak-teriak. 

Teman cewek gue semua pada histeris dan ikut menyaksikan apa yang Andreas saksikan (yaitu Pocong). Terus, dia ngajak gue untuk kesana. Kebetulan, waktu itu sedang mati listrik dan gelap banget. "Har, kesana yuk!" kata Andreas sampai dengan semangatnya. "Gak ah, gue takut entar terjadi sesuatu" kata gue, sambil ketakutan. Andreas ngatain gue penakut. Gue jadi emosional dan ingin ikut gabung.

Gue ajak Kelvin Thomas untuk melakukan ekpedisi. "Tenang aja, gue pake kalung jimat kok" kata gue dengan bangganya pake kalung tersebut. Kami pun naik ke lantai paling atas, di mana Andreas melihat sosok pocong berada. Gue naik ke lantai paling atas, sampai di sana, gue ikut merinding dan gak tau mau ngapain. Karena tempatnya gelap banget.

Terus, gue dengan beraninya jalan-jalan, keliling-keliling kayak orang kesurupan (bentar lagi juga kesurupan). Teman gue langsung lari, sambil teriak "SETANNN!". Gue kaget beneran, lalu gue langsung lari dengan cepat ke lantai paling bawah. Kampret, teman macam apa itu, sampai tinggalin temannya di tempat gelap.

Tapi gue bangga, karena gue berhasil mengetes keberanian gue (teman gue, Andreas yang sok berani, malah kabur duluan).

Kejadian kembali terulang saat kelas 6 SD. Waktu itu, teman gue ngarep berkata bahwa ia memiliki kemampuan mata untuk melihat makhluk astral. Julwandy, orangnya gemuk dan besar banget. Memakai kacamata dan orangnya putih. Saat itu kami sedang les sore, kebetulan kami duduk dekat jendela. Anginnya berhembus kencang banget. Gue dan teman-teman gue lainnya menikmati ketenangan dari hembusan angin itu. Lalu, tiba-tiba teman gue, Julwandy, berteriak, "Woi, ada kuntilanak!".

Teman gue yang duduk sekitar sana langsung menyerbu melihat dan berkata "Mana-mana?", "Itu di sana" kata Julwandy. Lalu teman gue yang satu lagi, namanya Kevin Jordan, Bokapnya seorang Pendeta. Dia juga, dengan ngawurnya berkata, "Tunggu-tunggu, gue buka mata batin dulu ya" lalu dia berkata, "Iya, beneran ada kuntilanak, lagi duduk di pohon itu."

Gue heran dan terkejut, kok pada rame-rame melihat kuntilanak, sementera gue hanya bisa lihat pohon mangga yang goyang-goyang di hembus angin kencang (kalau gak salah, gue melihat ada bocah lagi pipis). Terus, teman gue Julwandy bilang, "Siapa yang mau lihat kuntilanaknya? sini, gue bukain." Teman gue semua pada ngantri, hanya ingin melihat kuntilanak doang.

Gue juga ikut penasaran, lalu gue mintain teman gue,  Julwandy, untuk membuka mata batin gue. "Oke, sini gue bukain, coba tatap mata gue" kata Julwandy. Gue menatap dengan fokus dan menatap terus sampai gak terjadi apa-apa. ‘AWWWW!’.

"Kenapa?" tanya gue dengan wajah keheranan, "Gue gak bisa buka mata batinmu, Har, ada Dewa Angin!" (makin ngawur). Gue mikir-mikir, apaan lagi sih, tadi kuntilanak, mata batin, sekarang Dewa Angin, lo kira Avatar?. Mungkin, saat gue ke gedung renovasi, gue gak terjadi apa-apa karena ada Dewa Angin di tubuh gue (ngawur level 10).

Kejadian tersebut serupa lagi sekitar 2 minggu kemudian. Sama seperti yang tadi, gue lagi les sore bareng teman-teman gue. Saat les, teman gue minta izin ke toilet. Setelah kembali, dia bercerita keanehan sebuah kelas (kali ini ngawurnya tingkat apaan lagi?). "Tadi gue lihat ada orang ketawa di kelas sebelah" kata teman gue, namanya Febrick. Teman gue, Andika yang penasaran dengan gue pergi izin ke toilet.

Rencananya, kami pergi ke toilet dulu, lalu ke kelas angker tersebut. Setelah kami ke toilet, kami pun pergi ke tangga itu. ‘Gue pergi dulu, entar gue kasih aba-aba’ kata Andika. Gue langsung bilang "Oke" aja. Lalu Andika pergi duluan. Gue cuma nunggu di bawa tangga. "Dik, gimana?", gak ada suara sama sekali. Gue yang merasa curiga, langsung beranikan diri ke atas. Sesaat gue sampai di tangga, tiba-tiba sudah gak ada orang. Kampret, Andika ninggalin gue.

Gue langsung lari cepat dan pergi ke kelas gue. Sesampai di kelas , teman gue langsung ketawain gue, karena gue di tinggalin sendirian. "Wah, bahaya Har, mata lo jadi kuning!" kata Febrick ngawur. Gue jadi bingung dan heran, apa hubungan kelas angker, ada suara cewek ketawa, terus mata gue jadi kuning? Emang gue pake softlense?